
Sultan Mahmud Riayat Syah: Sang Penakluk Badai dan Arsitek Strategi Gerilya Laut
Oleh: Editor Sejarah Nusantara | Terbit: 4 Februari 2026
Dalam lembaran sejarah Nusantara, nama Sultan Mahmud Riayat Syah (Sultan Mahmud Syah III) menempati posisi istimewa sebagai sosok pemimpin yang tak kenal kompromi terhadap kolonialisme. Memerintah Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang pada tahun 1761–1812, beliau adalah otak di balik kekalahan memalukan Belanda di perairan Kepulauan Riau.
Biografi Singkat: Meniti Takhta di Usia Muda
Lahir pada tahun 1760, Sultan Mahmud Riayat Syah naik takhta saat masih berusia balita setelah wafatnya sang ayah, Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah. Di bawah bimbingan Yang Dipertuan Muda IV, Raja Haji Fisabilillah, beliau tumbuh menjadi pemimpin yang visioner dan memiliki insting politik yang tajam.
| Nama Lengkap | Sultan Mahmud Syah III |
|---|---|
| Masa Pemerintahan | 1761 – 1812 |
| Gelar Pahlawan | Pahlawan Nasional Indonesia (Ditetapkan 2017) |
Perang Melawan Belanda: Tragedi dan Balas Dendam
Puncak ketegangan terjadi setelah gugurnya Raja Haji Fisabilillah di Teluk Ketapang (1784). Sultan Mahmud tidak tinggal diam. Beliau mengorganisir kekuatan besar yang melibatkan pejuang dari berbagai daerah, termasuk bantuan dari bajak laut Illanun dan kekuatan dari Tempasuk (Kalimantan).
Pada Mei 1787, strategi gerilya laut yang beliau susun berhasil menghancurkan garnisun Belanda di Tanjungpinang. Kemenangan ini memaksa Belanda angkat kaki, meski mereka kemudian mengirimkan armada besar untuk membalas dendam.
Migrasi Strategis ke Daik Lingga
Menyadari bahwa posisi Tanjungpinang terlalu terbuka bagi serangan artileri kapal Belanda, Sultan Mahmud mengambil keputusan drastis namun jenius: memindahkan ibu kota kerajaan ke Daik, Lingga.
Di Daik Lingga, beliau tidak hanya membangun pertahanan, tetapi juga menjadikan wilayah ini sebagai pusat tamadun Melayu, literasi, dan perdagangan yang tidak bisa ditembus oleh monopoli VOC.
3 Hal Wajib Diketahui Tentang Sultan Mahmud Riayat Syah
- Diplomasi Internasional: Beliau mampu memainkan persaingan antara Inggris dan Belanda untuk menjaga kedaulatan wilayahnya.
- Pemimpin Multikultural: Pasukannya terdiri dari berbagai etnis, menunjukkan kemampuannya dalam mempersatukan Nusantara.
- Strategi ‘Bumi Hangus’: Sebelum pindah ke Lingga, beliau memerintahkan pengosongan wilayah agar Belanda hanya menemukan “kota mati” tanpa logistik.
